Monday, November 11, 2013

”Apalah artinya memuja langit, tapi membiarkan darah mengotori bumi….” -seno gumira adjidarma, mayat yang mengambang di danau



Sunday, November 10, 2013

Hari Ulang Tahun Istriku
oleh Herdy Wibawa

Istriku, tuhan menciptakau ayu namun dungu
Setua ini kau tak tahu suara angin yang bergerak di bawah ranjangmu
Dan aku telah bercumbu! Untuk malam yang lugu
Dengan khadam dirimu yang muda
Istriku, kau tak tahu aku telah meminang khadam dirimu sejak kau menjadi tua

Malam yang separuh
Istriku, menjadi tua lagi kau sesaat nanti
Bulan yang pucat itu tidur sendirian
Istriku, kau tak tahu aku menjadi dua
Bergumul lagi dengan khadam dirimu
Kerna bibir ini telah menjadi lelah untukmu
Dia, khadam dirimu memakai wewangian sementara kau membuat abu
Dia yang mengajariku memainkan nadanada sambil sembunyi
Bahkan tak tahu siapa aku!

Istriku, bakarlah aku olehmu! Selaksa nafsu
Biarkan rambutmu membekas memanjang
Di punggungku tempatku memapah waktu
Seperti harihari sebelum kau menjadi tua
Bahkan dingin pun kutebus satu persatu
Demi kita yang berhadaphadapan
Di hari ulang tahunmu
Kau tahu artinya aku memupus uban?
Biarkan aku ceritakan padamu
Selingkuh itu datangnya dari kepala.

2006
Nak
oleh Herdy Wibawa
 
Di tepian risau
Matahari menepi ombak
Wajahwajah silau
Risau gugur daun
Dari barat rindu terbantun 

Hujan november
Kaubisikkan permintaan
Kerna aku telah tegap berdiri, ujarmu
Kelak kubelikan kau sepeda baru, nak.

2007
Perjumpaan yang Melelahkan
oleh Herdy Wibawa

Perjumpaan yang melelahkan
Di taman yang menyeruak renyai
Sebab hujan menyandera bayangbayang
Ia bercerita tentang lahir sangsai
Inikah awal segala kenangan?
Dan ia yang leluasa menyentuh kemaluanku
Sambil membuat barah di sepanjang jalan

Di ujung rembulan 
Aku dan ia bercengkrama awam
Samasama saling menundukkan palagan
Semestinya ia pergi sebelum padam lampion
Bersama pedati yang berlari ke tenggara
Segala senyap untuknya adalah lelucon
Hingga tetirahku berhenti di sini

Aku dan asmara tak pernah padu 
Segala cinta mencipta api
Menjadikan derai air mata semua pagi
Tetesannya merembes terbawa debu
Ia yang menjelma rindu membuncah
Telah kusiapkan mantra pengantar lelap.

2008
kekasihku
oleh Herdy

kekasihku
dirimu dan ketakutan bermimpi pasar
sungguh aku,demi masa...
takutku pada menara alif
selepas kemarin kauhabiskan mantra
pada bau hujan yang usai

kekasihku
nubuat itu lelucon melulu
ia bukan milik kita. 

2009

Thursday, November 7, 2013

Aku Sedang Memikirkan Cinta
oleh Herdy Wibawa

Aku menghampirimu sungsang
Batasbatas itu tak pernah ada
Aku khawatir mendatangimu di layar senja

Aku sedang memikirkan cinta
Dalam urusan bunga rampai
Jasad ini meliukliuk diangini melodrama romansa
Tangan ini tak pernah sampai
Menghapus muslihat yang kautakik

Aku menyerah pada getaranmu
Yang meliukliukkan jasadku tepat tengah malam
Aku yang sedang memikirkan cinta
Masih terlongong saat kau bisikkan badai
Pejaman mata itu dan seikat beling di kepala
Menyelusup dingin di luka yang kubawa
Sedang kau tak kuat memainkan hati

Diorama kau dan aku yang kelelahan terbang
Begitu pun lukisan yang terbawa angin
Aku lelah mengetuk setiap pintu terbuka
Sedangkan semua hari telah ringkih
Biar kulipat tubuhmu ke dalam cinta yang kupikirkan
Bukankah cinta itu pandir yang ajaib?

2009
tanah ini
oleh Herdy Wibawa
 
seperti bulir yang menguning 
di setiap datang musim 
tanah ini dulunya gemah 
dipujapuja banyak raja 

sekarang tampuk kita tampuk jelata 
wasiat tak ada lagi guna 
rantai tanah telah galir 

ini adalah metamorfosa 
bunyi hujan tak jua lelap 
menjuntai airnya di akarakar angin 
berpencaran ke segala arah menjadijadi 

anakku 
tak ada renyai yang abadi 
warisan ini tak berhenti untukmu 
tanah darusalam 
dulunya cantrikcantrik senang mengaji 
alif ba ta 
bukan mengayun gergaji 
atau membuat api. 

2010